
INILAHCOM, Jakarta - Edy Rahmayadi didesak segera mundur dari jabatan Ketum PSSI menyusul hasil negatif timas Indonesia di Piala AFF 2018. Keputusan mundur dari jabatan pernah diambil dua tokoh ini setelah negaranya gagal di sebuah turnamen, bagaimana dengan Pak Edy?
Media sosial akhir-akhir ini tengah diramaikan oleh tanda pagar #EdyOut sebagai bentuk kekecewaan warganet melihat pencapaian Timnas Indonesia yang harus tersingkir di fase grup Piala AFF 2018.
Sebagai Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab terkait hasil kurang memuaskan timnas Indonesia. Selain itu, rangkap jabatan yang dijalani Edy Rahmayadi diklaim menjadi penyebab mantan Pangkostrad itu tak bisa fokus membenahi sepakbola Indonesia. Sebagaimana diketahui, selain Ketum PSSI Edy Rahmayadi juga menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut).
Spanduk #EdyOut di flyover Permata Hijau arah Patal Senayan.@infosuporter @MafiaWasit pic.twitter.com/jt3uAm6yCc
— Arif Budiwinarto (@dzarwothelegend) October 20, 2018
Wajar bila kemudian publik mulai gerah dengan prestasi sepakbola Indonesia yang belum menunjukkan kemajuan di bawah kepemimpinan Edy Rahmayadi. Mereka pun beramai-ramai menyatukan suara mendesak Edy Rahmayadi mundur dari jabatan PSSI karena dinilai gagal membina sepakbola Indonesia, indikasinya terlihat dari prestasi timnas di dua ajang besar, Asian Games dan Piala AFF 2018.
Mengundurkan diri dinilai sebagai sebuah langkah konkrit bentuk ketidakmampuan menghadirkan prestasi, jangan dipersempit sebagai upaya cuci tangan atas sebuah kegagalan. Diluar negeri, mengundurkan diri sudah menjadi budaya malu apabila gagal memberikan hasil yang terbaik.
Contohnya sudah banyak, bahkan negara tetangga kita, Malaysia, yang selama ini kerap dituding tak punya identitas asli karena cuma bisa klaim budaya Indonesia malah bisa memberikan contoh nyata.
25 Maret 2018, Tunku Ismail Sultan Ibrahim resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM). Penyebabnya, pencapaian Timnas Malaysia yang jeblok. Per 15 Maret 2018, Malaysia menduduki ranking FIFA ke-178. Catatan itu jadi yang terburuk sepanjang sejarah sepak bola Malaysia. Kondisi itu memicu kritikan pedas dan kekecewaan yang dilancarkan beberapa pihak. Mereka menyalahkan TMJ dalam memimpin FAM.
Perlu diketahui, sebenarnya keinginan Tunku Ismail yang juga Putra Mahkota Johor untuk mundur dari kursi Presiden FAM sudah mengemuka sejak beberapa pekan terakhir. Namun, elemen sepak bola Negeri Jiran termasuk Komite Eksekutif di FAM masih berupaya membujuk Tunku Ismail mengurungkan niatnya.
Namun, Tunku Ismail bergeming. Ia tetap ingin meninggalkan jabatannya. Prestasi sepak bola Malaysia, yang tercermin melalui Timnas Malaysia yang jeblok, menjadi satu di antara alasan pria yang biasa disapa dengan TMJ itu mundur dari kursi Presiden FAM.
Masih kurang contoh konkrit lainnya, Pak Edy? Masih ingat kegagalan Italia melaju ke Piala Dunia 2018, kalau bapak mengikuti perkembangan sepakbola dunia pasti bapak mengenal sosok Carlo Tavecchio.
Pada 21 November 2017, tepat setahun lalu, Tavecchio meletakan jabatannya sebagai Presiden FIGC, PSSI-nya sepakbola Italia. Ia berada di bawah tekanan untuk mundur setelah Italia dikalahkan Swedia di babak playoff yang berarti gagal berlaga di Piala Dunia 2018 Rusia. Sebuah catatan buruk dalam sepakbola Negeri Pizza dimana mereka untuk pertama kalinya absen di gelaran empat tahunan itu sejak 1978.
Dua contoh diatas dirasa sudah cukup memberikan gambaran bagaimana seorang tokoh mempertanggungjawabkan ketidakmampuannya mempersembahkan sebuah prestasi bagi negara dan rakyatnya.
Jangan salahkan rakyat dengan ekspektasi besarnya, Indonesia juga ingin merasakan juara setidaknya di Piala AFF seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. "Lah wong Indonesia negara besar kok masa di Asia Tenggara saja kalah terus," kira-kira itulah yang sering terlontar dari suporter timnas.
Mari merenung Pak Edy, kegagalan dan mengundurkan diri bukan hal buruk kok. Bahkan, bisa menjadi contoh teladan, seperti nama stadion klub kebanggaan bapak di Medan, bagi pejabat-pejabat negeri ini yang seakan tak punya malu berusaha membela diri padahal sudah terbukti bersalah dan gagal.
Bagaimana Pak Edy, berani mundur seperi Tunku Ismail dan Carlo Tavecchio?
Selamat siang
Baca Kelanjutan Harusnya Pak Edy Mau Mundur Seperti Dua Tokoh Ini : https://ift.tt/2DSR6RoBagikan Berita Ini
0 Response to "Harusnya Pak Edy Mau Mundur Seperti Dua Tokoh Ini"
Posting Komentar