Search

Menpora Akui Pelatih di Sekolah Sepak Bola Banyak Tak Berlisensi - detikNews

Jakarta -

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menjadi penguji pada Ujian Terbuka Promosi Doktor S-3 Ilmu Keolahragaan, Fakultas Keolahragaan, Universitas Sebelas Maret (UNS) atas nama Sulistiyono melalui virtual, Selasa (22/6) dari Sitroom, Kemenpora.

Selain itu, turut hadir Dewan Penguji, antara lain Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho, Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Prof. Dr Nurhasan, dan Rektor Universirs Negeri Yogyakarta Prof. Dr Sumaryanto.

Sulistiyono menyusun disertasi karya ilmiah S-3 dengan judul "Pengembangan Model Latihan Berbasis Games Experience Learning" untuk Mengembangkan Keterampilan dan Karakter pada Siswa Sekolah Sepak Bola Kelompok Umur 9-12 tahun (Studi Pengembangan pada Sekolah Sepak Bola di Kabupaten Sleman).

Dalam paparannya, Sulistiyono mengatakan bahwa sekolah sepak bola sebagai akar rumput yang membina pemain usia 7 sampai 15 tahun.

"Mengacu model pembinaan di negara maju dengan konsep Long Term Athlete Development (LTAD), pada usia 9-12 tahun, idealnya mereka masih berada pada level pengembangan teknik dan karakter. Tetapi apa yang terjadi di Indonesia, latihan berorientasi pada kemenangan tim ketika bertanding dalam kompetisi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/6/2021).

Menurutnya, model latihan di Indonesia lebih bersifat spesialisasi dini, bahkan pengembangan karakter diabaikan oleh pelatih.

"Solusi yang saya prediksi dapat menyelesaikan masalah, kami mengajukan penelitian dengan judul Model Latihan Berbasis Games Experience Learning untuk Mengembangkan Keterampilan dan Karakter pada Siswa Sekolah Sepak Bola Kelompok Umur 9-12 tahun," jelasnya.

Sebelum melakukan penelitian disertasi, dia telah melakukan studi literatur terkait dengan penelitian yang relevan, pengembangan keterampilan, maupun pengembangan karakter di dunia olahraga.

"Pengembangan dan karakter dalam latar belakang olahraga prestasi belum kami temukan. Memang ada, tapi masih dalam dunia pendidikan jasmani," ucapnya.

"Rumusan masalah yang dipilih ada 6, tetapi ada masalah yang paling, yaitu masalah ke-6 yaitu, bagaimana efektivitas model latihan ini dibandingkan dengan model latihan yang bersifat konvensional atau saat ini banyak dilakukan di lapangan," tambahnya.

Ia melanjutkan, kondisi yang terjadi di kabupaten Sleman, 40 persen SDM pelatih yang ada di lapangan belum memiliki lisensi pelatihan. Menurutnya, pelatih berorientasi pada fisik, teknik dan taktik, tetapi karakter belum menjadi perhatian khusus oleh mereka.

Namun demikian, kata dia, pelatih menganggap bahwa olahraga dapat dijadikan media untuk mengembangkan karakter, tapi diakui masih sering terjadi hal-hal yang tidak mengenakan di pertandingan sepak bola.

Berikutnya, lanjut Sulistyo, para pelatih memberikan pendapat bahwa disiplin, kerja keras, kerja sama, jujur menghormati orang lain, dan tanggung jawab menjadi karakter yang paling dianggap penting dari sekian karakter yang dalam mengembangkan pemain sepak bola.

Pada saat uji efektivitas, Sulistiyono menggunakan 2 kelompok dengan pendekatan ancova dan paired test, maka model yang dikembangkan dinyatakan lebih efektif untuk mengembangkan skill dan karakter pada siswa usia 9-12 tahun.

"Permainan menjadi hal yang menyenangkan buat anak sehingga mereka sangat enjoy dalam menjalani model ini. Kesimpulan, model ini berpengaruh lebih signifikan dan efektif dibandingkan latihan konvensional untuk mengembangkan skill dan karakter terhadap siswa SSB usia 9-12 tahun," tutupnya.

Adapun pada kesempatan tersebut, Amali memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dilakukan oleh Sulistyo.

"Dari hasil penielitian lembaga survei internasional bahwa 77 persen rakyat Indonesia sangat menyukai sepak bola, tapi Indonesia sangat tertinggal dengan negara lain. Karena itu Bapak Presiden mengeluarkan Inpres nomor 3 tahun 2019 tentang percepatan persepakbolaan nasional. Dan ini kita bisa kolaborasikan," ujar dia.

Dia pun setuju bahwa para pelatih SSB banyak yang tidak berlisensi.

"Saya pernah di satu kunjungan kerja menemukan ada satu SSB yang melatih sesuai yang ia dapatkan oleh para pelatihnya dulu. Bisa dibayangkan usia 9-12 diberi porsi latihan senior. Tentu banyak hal yang tidak masuk di mereka," ucapnya.

Lebih jauh, Amali memaparkan mengenai Inpres tersebut.

"Sekarang ini kita punya Inpres nomor 3 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan sepak bola nasional. Tugas Kemenpora menyusun dan menetapkan petunjuk, pedoman teknis pada kementrian, dan lembaga terkait terhadap sepak bola kita," katanya.

Secara khusus, kata Amali, Kemenpora mendapatkan beberapa tugas.

"Pertama, kami melakukan pengembangan kurikulum, pengembangan bakat pemain sepakbola. Kemudian melakukan pembinaan usia dini dan muda secara berjenjang. Penyelenggaraan kompetisi kelompok usia, fasilitasi tenaga ahli, instruktur, wasit, dan pelatih. Bimbingan teknis pada centra olahraga sepak bola," ucapnya

Simak juga 'Alasan Fenomena Artis Beli Klub Bola Menurut Menpora':

[Gambas:Video 20detik]

(mul/mul)

Adblock test (Why?)



"sepak" - Google Berita
June 23, 2021 at 09:56AM
https://ift.tt/3d5Jfjo

Menpora Akui Pelatih di Sekolah Sepak Bola Banyak Tak Berlisensi - detikNews
"sepak" - Google Berita
https://ift.tt/2SP8xJg
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Menpora Akui Pelatih di Sekolah Sepak Bola Banyak Tak Berlisensi - detikNews"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.